Merry Christmas :)

Christmas is the time to once more discover who we are – Pope Francis

Selamat memaknai Natal

Feliz navidad! Sugeng Natal! Merry Christmas, lovely people 🙂

Advertisements

The Rose

It’s the heart afraid of breaking, that never learns to dance;
It’s the dream afraid of waking, that never takes the chance;
It’s the one who won’t be taken, who can not seem to give;
And the soul afraid of dying, that never learns to live..

IMG_1818
If I decided to give up, I would never seen these beautiful Roses, Guadalupe – Mexico City 2012

Satu paragraf dari lagu ‘The Rose’ oleh Sol3 Mio (yang juga dinyanyikan oleh Westlife dan Bette Midler) ini saya dengar di  earphone dan liriknya membangunkan saya dari kantuk di tengah-tengah penerbangan panjang menuju ke Jakarta.  I was staggered for a moment, to recall my life six years ago.

It’s the heart afraid of breaking, that never learns to dance;

Saya harus berterima kasih pada Silvia dan Segolene, dua teman baik selama musim panas di Malaga, yang menyeret saya dari ‘tempurung katak’ untuk belajar menari. Pertemanan yang nyaman itu membuat saya yang awalnya kaku-introvert, pada tengah minggu pertama di sana akhirnya bisa ikut ‘menari’, menikmati musik dan manisnya cartojal. Saya tersenyum teringat kita pernah menari di banyak tempat, hampir setiap hari, di bar, club, menyusuri lorong kota tua di siang hari ikut menari bersama euforia ratusan penduduk lokal yang merayakan festival tahunan. Espero que volveremos juntos! Gracias amigas 🙂

It’s the dream afraid of waking, that never takes the chance;

Pada masa sulit itu, saya harus berterima kasih atas dukungan dari sahabat-sahabat terdekat, yang mengusulkan untuk melanjutkan studi, yang menyemangati untuk mengambil pilihan pekerjaan yang saya lakukan hingga sekarang, untuk menyeret saya kembali nonton film di bioskop, untuk mengajak saya menyanyi, belajar bahasa, travelling dan banyak lagi. Peluang-peluang itu mungkin akan saya tolak, karena waktu itu saya begitu takut menghadapi kehidupan. Terima kasih, untuk membuat saya berhenti menjadi pribadi yang delusional dan bangun dari mimpi buruk panjang. Ada saat dimana saya begitu takut menghadapi hari yang baru, sapaan, nasihat dan doa-doa para sahabat membuat saya memiliki keberanian untuk mengambil keputusan untuk ‘bangun’ dan menyapa kehidupan.

It’s the one who won’t be taken, who can not seem to give;

Tentang memberi, ah.. tidak layak rasanya saya mempertanyakan lagi kemurahan hati Tuhan, di saat pemberian adalah suatu keterlimpahan. Tak pernah terlupa di masa itu, kelegaan untuk akhirnya bisa pasrah, untuk bisa menerima hidup as it is. Itu adalah saat pertama saya menangis ketika membaca: take my memory, my understanding and my will. RahmatNya yang mengarahkan diri untuk pasrah, berserah, bisa nrimo. I surrender. I gave my self, and somehow, it brought me to life. Pasrah membuka mata hati, membuat saya bisa memaafkan diri sendiri, memberi kejernihan untuk ‘melihat’ hidup dari sisi yang berbeda. Justru pada saat berpikir hidup jatuh pada titik terendah, kepasrahan menginisiasi harapan untuk bangkit, untuk sadar bahwa masih ada hal-hal yang tak ternilai: keberanian, iman, akal sehat untuk menolak menyerah.  Since then, saya (tertatih-tatih) belajar memberi, karena pernah mengalami, life saved by a simple gift, unassuming surrender.

And the soul afraid of dying, that never learns to live

Dulu, sering terpikir untuk mengakhiri hidup. Saya malu tentunya karena pernah kehilangan akal sehat seperti itu. Kuatir-kuatir-kuatir. Ketakutan menguasai pikiran setiap hari, sehingga lupa akan kehidupan. I forgot  to animate my existence. Kini saya lega, membayangkan jika saya berhenti pada titik itu, jika saya menyerah, saya menjadi pecundang dan saya akan menyesal to know what life brings on the table every single day.

Saat ini saya bahagia, secara sederhana. Sungguh.

Bahagia karena dimampukan untuk memberi makna pada hidup.

 

 

A better way of saying ‘Love’

From the book ‘In Praise of Love” by Alain Badiou

Love locks at Pont des arts, Paris
Love padlocks at Pont des arts, Paris, 2014

To love is to struggle, beyond solitude, with everything in the world that can animate existence. The world where I see for my self the fount of happiness my being with someone else brings. “I love you” becomes: in this world there is the fount you are for my life. In the water from this fount, I see our bliss, yours first.

——————————————————————-

Setelah hampir dua bulan buku ini mengganggur di atas meja, akhirnya bisa juga saya punya waktu untuk membaca buku yang sudah saya beli berjudul ‘In Praise of Love’ karangan filsuf Perancis, Alain Badiou. Dan saya hepi banget! Karena in a way, bukunya bagus, memberikan wawasan yang berbeda. Buku kecil berhalaman 104 ini adalah hasil percakapan Nicolas Truong (Jurnalis Le Monde) dengan Alain Badiou. Beberapa hal menarik yang dibahas antara lain kecenderungan orang masa kini untuk mencari pasangan dengan cara mudah (zero-risk love) antara lain melalui internet dating site, yang men’comblang’kan dua pribadi yang dianggap cocok, tanpa resiko. Misal A suka wanita dengan penampilan fisik tertentu, suka anjing, musik jazz, suka pergi ke museum, maka program akan mencarikan tipe wanita yang mendekati selera A. Hal seperti ini dianggap Badiou akan meniadakan kemungkinan ‘genuine experience’. Mengutip Rimbaud: love needs re-inventing, maka bila berada di zona cinta-tanpa-resiko akan membuat pasangan kurang berupaya. Di buku ini juga disinggung sedikit mengenai perjodohan ‘well-planned marriage’ terutama untuk alasan ekonomi, mencari derajat ekonomi yang menguntungkan. Selain itu juga dibahas mengenai hedonisme, casual-relations/enjoyment dan konsumerisme yang merupakan ancaman terhadap cinta. Oya, disini dibahas juga sih mengenai penting ga sih menyatakan cinta.

Setelah membaca buku ini, ada beberapa hal yang saya setuju banget. Ada satu hal khusus yang membuat saya ingin berceloteh. Buat saya, dalam memilih ‘my other half’ saya lebih cenderung untuk mencari hubungan yang ‘patut diperjuangkan’. (Gue nyari masalah banget ya :p kurang kejam apa Ibukota sampai perkara cinta segala perlu diperjuangkan) Bagi saya pribadi apa sih asyiknya kalau perbedaan selera, sifat, pandangan hidup dieliminir sedemikian kejam menjadi mendekati homogenitas/keseragaman. Dalam pandangan saya, bukan masalah mau cari other half yang beda banget atau mencari ‘yes-man’ person, karena terkadang kan kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta (mengutip dalil de gustibus non disputandum est), namun dalam konteks ini, yang membuat saya terkesan dan diamini adalah setiap orang perlu ‘genuine experience’ yakni pengalaman ataupun reaksi akan yang tulus, terutama dalam menghadapi kendala dan perbedaan. Love takes two, begitu kata buku ini, malah ditekankan berulang-ulang the truth procedure is simple the truth about two. Dua pilihan hidup, dua kepala, dua gaya hidup, dua pemikiran yang entah bagaimana caranya memiliki daya yang mumpuni untuk membuat dua pribadi tersebut melewati serangkaian momentum pengalaman hidup yang membentuk mereka untuk ‘re-inventing love’. Pada bab the truth of love: all love that accepts the challenge, commits to enduring, and embraces this experiences of the world from the perspective of difference produces in its way a new truth about difference.

Membaca buku ini, pada banyak bagian: I nodded a lot! Banyak hal-hal indah yang walaupun pada prakteknya susah banget untuk menjaga kesadaran ini: salah satunya adalah meletakkan cinta pada usaha yang terus menerus. There is work of love: it is not simply a miracle. You must be in the breech, not guard: you must be at one with yourself and the other. Susah yak!

Catatan: artikel ini dilengkapi foto yang saya ambil dulu di ‘Jembatan Cinta’ di Pont des Arts, Paris. Jadi ceritanya orang-orang menempelkan gembok di jembatan ini dengan harapan hubungan akan abadi selamanya, love me-lock me! Gitu deh kurang lebih. Kalau ngga punya gembok pun tidak usah kuatir, tukang jual gemboknya mangkal di ujung jembatan. Gembok yang terpasang disini banyak banget, lengkap dengan nama pasangan dari berbagai belahan dunia beserta pernyataan cinta yang super romantis. Dua gembok dari teman-teman seperjalanan saya pun ikut dipasang. Saya sih enggak ikutan pasang karena saat itu ga ada my other half yang cukup signifikan untuk ‘patut diperjuangkan’ hahaha. Jadi cuman ikutan foto manis di sini 😉 Kabar terakhir, tahun ini pemerintah kota Paris memutuskan untuk membongkar semua gembok-gembok itu dikarenakan semakin banyak sehingga semakin berat dan gembok yang berjatuhan mencemari sungai Seine. Nah lo, jadi abadi ga nih cintanya :p ?

Como Tu lo quieras

IMG_7637

Oracion de Rupert Mayer, SJ

Señor, como Tú lo quieras, así ocurrirá.
Y como Tú lo quieras, así también lo desearé yo.
Ayúdame a entender de verdad tu voluntad.
Señor, lo que Tú quieras, eso es lo que escogeré.
Y lo que Tú quieras, esa es mi ganancia.
Me basta y me es suficiente saber que soy todo tuyo.
Señor, porque Tú lo quieres, por eso mismo eso es bueno.
Y porque Tú lo quieres, por eso tengo ánimos.
Mi corazón descansa en tus manos.
Señor, cuando Tú lo quieras, ese será el momento adecuado.
Y cuando Tú lo quieres, yo estoy dispuesto. Hoy y en toda la eternidad.

Be Graceful and Experimental (by Martin Stannard)

IMG_2098

Be graceful and experimental,
the exact opposite of those who fail
of those who stay in the shadows.
The day awakens and thinks
what shape it’s going to be today,
then it’s that shape. Sometimes it’s difficult
to work out what the shape is going to
be when you look at the day before breakfast.

I looked out of the day this afternoon
and the sun was hidden by clouds
but I knew it would reappear
if not today then tomorrow or the next day.
I knew it was there, and only hidden.
The world is graceful and strange and
ugly and familiar sometimes and sometimes
it surprises you but there are things
that can be relied on. The sun is one of them.

And now it’s the night and the day
is going to graceful sleep. I am awake
thinking about several different days
and what shape they were. The days were
long ago, and although I couldn’t see
them clearly then I can now make out
what shapes they were. I am beginning
to understand what those days were about.

"He who has a why to live can bear almost any how"